Senin, 31 Agustus 2009

DAMPAK KEKERINGAN PADA TANAMAN HORTIKULTURA

DAMPAK KEKERINGAN PADA TANAMAN HORTIKULTURA Cetak E-mail
Sumber : Bahan RAPIM
Selasa, 16 September 2008

Image Pemanfaatan sumberdaya alam, sebagaimana halnya ekosistem pegunungan, lebih sering ditekankan pada upaya peningkatan produksi dan eksploitasi secara berlebihan (over eksploitasi). Strategi dan manajemen yang diterapkan lebih berorientasi pada keuntungan ekonomi semata, dengan mengabaikan kemampuan, daya dukung dan kelestarian sumberdaya alam. Eksploitasi secara berlebihan telah menyebabkan terjadinya penyerobotan dan pembukaan lahan yang tidak sesuai peruntukan atau melanggar tata ruang, sehingga akhirnya menimbulkan berbagai dampak dan permasalahan lingkungan serta kerugian pada masyarakat (eksternalitas).

Keadaan sumberdaya alam sudah banyak yang rusak karena dieksploitasi sehingga menyebabkan kemampuan dan daya dukung alam untuk menampung turunnya hujan menjadi berkurang secara drastis. Hal ini telah menyebabkan terjadinya bencana alam, baik berupa banjir maupun tanah longsor pada musim hujan, sementara pada musim kering menimbulkan bencana kekeringan. Pada musim kemarau dewasa ini juga berdampak negatif pada agribisnis hortikultura sebagaimana dilaporkan terjadi pada beberapa daerah.

Keadaan dan Pengaruh Bencana Alam

Terjadinya musim kemarau yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia sedikit banyaknya mempengaruhi peningkatan produksi dimana pada tanaman tertentu sangat membutuhkan pasokan air yang cukup seperti pada tanaman sayuran sehingga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomis pada beberapa sentra agribisnis hortikultura.

Bencana alam kekeringan yang menimpa tanaman buah pada periode Januari – Juli 2008 dilaporkan seluas 18,2 ha dan tidak ada yang terkena puso, yang terjadi di propinsi Jawa Timur dan Sulawesi Utara. Pada periode yang sama, tanaman sayuran yang mengalami kekeringan seluas 58 ha dan tidak ada yang puso. Lebih rinci kondisi tanaman buah-buahan dan sayuran yang terkena bencana alam dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 1. Luas Keadaan Bencana Alam Kekeringan pada Tanaman Buah Periode Januari – Juli 2008.

No

Jenis

Tanaman

Kekeringan

(Ha)

Propinsi

Jumlah

Jatim

Sulut

1.

Semangka

Terkena

10

-

10

2.

Pisang

Terkena

-

5,3

5,3

3.

Pepaya

Terkena

-

2,9

2,9

Jumlah

Terkena

10

8,2

18,2

Dibandingkan dengan total areal produksi di daerah setempat, maka semangka hanya 0,15 %,pisang 9,16 % dan papaya 0,85 %.

Tabel 2. Luas Keadaan Bencana Alam Kekeringan pada Tanaman Sayuran Periode Januari – Juli 2008

No

Jenis

Tanaman

Kekeringan

(Ha)

Propinsi

Jumlah

Sumbar

Sulut

1.

Cabai

Terkena

2

38,5

40,5

2.

K. Panjang

Terkena

-

9

9

3.

Terong

Terkena

-

8,5

8,5

Jumlah

Terkena

2

56

58

Dibandingkan dengan toral areal produksi di daerah setempat, maka cabai di Sumbar 0,03 %, cabai di Sulut 6,33 %, kacang panjang di Sulut 6,33 % dan terong di Sulut 1,06 %.

Melihat keadaan dampak bencana kekeringan periode Januari – Juli 2008 pada tanaman hortikultura sebagaimana pada Tabel 1-2 diatas, dapat disimpulkam untuk tanaman buah dan tanaman sayuran dampak bencana alam kekeringan tidak menimbulkan kerusakan yang mengkhawatirkan. Karena secara totaldampak pada areal buah-buahan yang terkena hanya 0,25 %, dan pada sayuran yang terkena hanya 0,69 %

Upaya tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan akibat bencana kekeringan tersebut adalah :

  1. Kepada pemerintah daerah yang daerahnya mengalami bencana alam diharapkan supaya segera melakukan penanganan langkah tindak lanjut dan memberikan bantuan sesuai dengan wewenangnya.
  2. Bagi daerah yang mengalami bencana cukup parah, dapat diupayakan melalui dana bencana alam yang dikelola oleh Setjen Departemen Pertanian apabila ada usulan resmi dari Pemda (Bupati/Walikota) ke Menteri Pertanian.
  3. Kegiatan pembangunan hortikultura di daerah juga akan dikoordinasikan untuk diarahkan pada lokasi bencana.

Institusi terkait dalam rangka penanganan akibat bencana kekeringan antara lain : Setjen Departemen Pertanian, Dinas Pertanian Propinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota .

Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 22 September 2008 )

WASPADA SERANGAN KUTU PUTIH PADA TANAMAN PEPAYA

WASPADA SERANGAN KUTU PUTIH PADA TANAMAN PEPAYA Cetak E-mail
Sumber : Bahan RAPIM
Kamis, 18 September 2008

Image Pepaya merupakan salah satu komoditas buah yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Produksi pepaya selama lima tahun terakhir termasuk dalam kelompok lima besar produksi buah-buahan dan buah ini tersedia sepanjang tahun. Secara agroklimat, tidak memerlukan kondisi yang spesifik sehingga komoditas ini dapat berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Budidaya yang dilakukan oleh sebagian besar petani hanya dengan memanfaatkan areal sekitar pekarangan, dalam perkembangan akhir-akhir ini komoditas papaya mempunyai peluang untuk di budidayakan secara komersial.

Dewasa ini pada beberapa daerah ditemui adanya serangan OPT yang mengakibatkan adanya potensi kerugian ekonomis yang dialami petani. Hal ini terjadi disebabkan adanya serangan OPT kutu putih (Paracoccus marginatus William and Granara de Willink, Hemiptera: Pseudococcidae) yang menyerang tanaman pepaya dengan wilayah penyebaran di Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Kota Depok Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Berdasarkan laporan dari petani dan petugas pengamat hama bahwa telah terjadi serangan hama kutu putih (Paracoccus marginatus William and Granara de Willink, Hemiptera: Pseudococcidae) pada tanaman pepaya dan beberapa jenis tanaman lain di Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Kota Depok, hal ini telah ditindaklanjuti dengan melakukan survei deteksi yang dilaksanakan tanggal 22 – 24 Agustus 2008.

Sebaran kutu putih telah terdeteksi di Kabupten Bogor (Kecamatan Gunung Putri, Sukaraja, Cigombong, Dramaga, Rancabungur, Cijeruk, Ciburui, Cibinong, dan Bojonggede), Kabupaten Sukabumi (Kecamatan Cicurug dan Cidahu), dan Depok (Kecamatan Beji dan Pancoran Mas) Propinsi Jawa Barat.

Selain di wilayah Propinsi Jawa Barat, kutu putih pepaya tersebut juga telah ditemukan di wilayah DKI Jakarta yaitu di Jakarta Selatan (Kecamatan Jagakarsa, Cilandak, Pasar Minggu dan Senayan) dan Propinsi Banten yaitu di Kabupaten Banten (Kecamatan Ciputat). Berdasarkan informasi yang dikumpulkan di lapangan, nampaknya kutu sudah ditemukan sejak musim kemarau tahun lalu.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, diduga kuat inang utama kutu tersebut terdapat pada tanaman pepaya mengingat pada tanaman tersebut populasi kutu ditemukan dalam jumlah paling tinggi dan dampak serangan yang parah. Berbagai varietas pepaya (lokal maupun introduksi, seperti Bangkok, Binong, California, Paris, Atania, pepaya bunga terserang oleh kutu putih. Namun demikian selain tanaman pepaya, kutu ini juga ditemukan pada tanaman alpukat, terong, tomat, kamboja, aglaonema, palm putri, kembang sepatu, puring, zodia, serta tanaman bukan komoditas hortikultura yaitu singkong dan jarak.

Penyebaran kutu dapat disebabkan oleh angin, terbawa bibit, terbawa orang, maupun terbawa serangga lain dan terbawa burung. Keberadaan kutu yang cukup tinggi dan bersifat polifag mempunyai potensi menyebar yang sangat cepat. Disamping itu, dari sifat biologisnya yang merusak tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman serta mengeluarkan racun, mengakibatkan terjadinya khlorosis, kerdil, malformasi daun, daun muda dan buah rontok, banyak menghasilkan eksudat berupa embun madu sampai menimbulkan kematian tanaman. Dengan demikian kutu putih ini memiliki potensi dapat merugikan ekonomis yang cukup tinggi.

Upaya pengendalian yang telah dilakukan Ditjen Hortikultura antara lain adalah :

  1. Mengingat penyebaran populasi yang cukup luas dan pada berbagai jenis tanaman dengan populasi tanaman yang cukup tinggi, Ditjen Hortikultura bersama Dinas Pertanian dan Kehutanan dan BBOPT Jatisari mengkoordinasikan pengendalian dengan penggunaan pestisida maupun pemusnahan. Hal ini ditujukan agar secara cepat terjadi penurunan populasi kutu di lapangan.
  2. Alternatif pertama yang perlu ditempuh untuk penanganan kutu putih sebagai OPT baru di Indonesia adalah dengan eradikasi populasi sesuai standar ISPM-9 untuk mencegah penyebaran dan menetapnya OPT tersebut di wilayah Indonesia. Beberapa tahapan proses ini secara prinsip – prinsip telah dilakukan, antara lain tahapan evaluasi tentang laporan keberadaan OPT, pengumpulan informasi termasuk informasi langsung untuk merancang eradikasi, indentifikasi OPT, estimasi keberadaan dan potensi distribusi dan lain – lain. Eradikasi OPT sesuai ISPM-9 tentu saja memerlukan perencanaan yang sangat baik, koordinasi beragai instansi, organisasi pelaksana dengan pelaksanaan yang baik, pembiayaan yang memadai dan waktu yang relatif lama. Hasil yang diharapkan adalah terbebasnya status keberadaan P.marginatus di Indonesia setelah dilakukan verifikasi dan deklarasi sesuai standar ISPM oleh NPPO.
  3. Alternatif kedua yang perlu ditempuh adalah dengan “mengakomodasikan” keberadaan P.marginatus di Indonesia dengan berbagai konsekuensinya. Apabila hal ini dilakukan, langkah – langkah yang perlu dilakukan adalah; pengendalian untuk menurunkan populasi dengan segera, kajian ekobiologi kutu putih, kajian potensi dan pengembangan musuh alami lokal, kajian cara – cara pengendalian yang efektif, penyebarluasan informasi dan kewaspadaan terhadap petugas dan petani, survei deteksi penyebaran di daerah – daerah sentra produksi (pepaya) dan lain – lain. Apabila memungkinkan, penetapan kawasan karantina bagi P. marginatus (walaupun hal ini kemungkinan sulit dilakukan, mengingat penyebaran ke daerah lain yang sangat mudah melalui berbagai sarana), serta introduksi musuh alami dari negeri asalnya.

    Institusi terkait dalam rangka penanganan serangan kutu putih pada tanaman papaya dan tanaman lain adalah : Badan Litbang Departemen Pertanian, BBOPT Jatisari, Dinas Pertanian Propinsi Jawa Barat dan NPPO

Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 22 September 2008 )

TANAMAN PERDANA Rhapis exelsa DI PENGEMBANGAN SENTRA PRODUKSI GERBANG EKSPOR

TANAMAN PERDANA Rhapis exelsa DI PENGEMBANGAN SENTRA PRODUKSI GERBANG EKSPOR Cetak E-mail
Sumber : Bahan RAPIM
Jumat, 19 September 2008

ImagePengembangan usaha tanaman hias berorientasi ekspor membutuhkan dukungan basis produksi yang kuat untuk menjamin ketersediaan produk secara kontinu. Oleh karena itu diperlukan pendekatan yang mengacu pada penumbuhan sentra produksi. Direktorat Jenderal Hortikultura bersama eksportir PT. Agro Duasatu Gemilang, CV Bunga Indah Farm dan Pemda Propinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau, pada bulan April 2007 sepakat mengembangkan sentra produksi tanaman hias orientasi ekspor.

Kota Pekanbaru, dikembangkan Rhapis exelsa untuk pengembangan sentra produksi tanaman hias di gerbang ekspor. Dalammewujudkan usaha tersebut, telah dilaksanakan penanaman perdana Rhapis exelsa di lahan usaha kelompok tani.

Penanaman perdana Rhapis exelsa dilaksanakan oleh Kelompok Tani Palm Garden di Pekanbaru pada 20 Agustus 2008 yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan SL GAP tanaman hias. Kegiatan ini diharapkan dapat memacu pengembangan sentra produksi tanaman hias di gerbang ekspor. Bibit Rhapis exelsa 33.650 batang didatangkan dari Jawa Timur ditanam pada areal 3.000 m2. Selama SL GAP para petani telah melakukan pengolahan tanah dan pembuatan naungan dengan shading net. Lebih lanjut, para petani Rhapis exelsa berkeinginan bergabung dalam wadah berbentuk Koperasi Melati yang berperan memperkuat posisi petani dalam proses produksi.

Dalam lima tahun mendatang, diharapkan Pekanbaru menjadi sentra Rhapis exelsa. Dalam rangka pengembangan tanaman hias, pemerintah kota Pekanbaru telah menyediakan lahan 40 ha untuk dimanfaatkan selama 10 tahun.

Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan Rhapis exelsa antara lain adalah : a) petani belum memahami SOP budidaya Rhapis exelsa secara mendalam, seperti penanganan bibit, penanaman dan pemeliharaan tanaman belum dilaksanakan sesuai prosedur standar, dan b) kelembagaan petani (kelompok tani, gapoktan atau asosiasi) tanaman hias Rhapis exelsa masih belum kuat.

Solusi yang sudah dan akan ditindaklanjuti antara lain adalah : a) Pelaksanaan Sekolah Lapang GAP/SOP Rhapis exelsa, b) monitoring pelaksanaan Sekolah Lapang GAP/SOP Rhapis exelsa dan c) pembentukan Koperasi Melati.

Institusi terkait dalam rangka pengembangan sentra produksi Rhapis exelsa adalah : Direktorat Budidaya Tanaman Hias, Ditjen Hortikultura, Dinas Pertanian Propinsi Riau, Dinas Pertanian Kota Pekanbaru, pelaku usaha tanaman hias (petani dan pengusaha) dan eksportir (PT. Agro Dua Satu Gemilang).

Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 22 September 2008 )

ANGGUR VARIETAS PRABU BESTARI DARI PROBOLINGGO

ANGGUR VARIETAS PRABU BESTARI DARI PROBOLINGGO Cetak E-mail
Sumber : Bahan RAPIM
Jumat, 19 September 2008

ImagePengembangan anggur di Kota Probolinggo merupakan upaya pemerintah untuk mengembalikan citra Probolinggo sebagai kota “Bayuangga” (bayu = angin; angga = anggur dan mangga). Peluang keberhasilan pengembangan anggur di Kota Probolinggo cukup tinggi, karena ekosistem yang cocok, juga kebutuhan buah anggur bagi masyarakat yang belum terpenuhi.

Secara agroekosistem, Kota Probolinggo cocok untuk kawasan pengembangan tanaman anggur. Produksi buah anggur di Kota Probolinggo sebanyak 33,12 ton, masih jauh dari permintaan yang mencapai 162 ton pada tahun 2006, belum termasuk kebutuhan hasil olahan. Gambaran ini menunjukkan bahwa potensi pengembangan agribisnis anggur di Kota Probolinggo sangat besar. Disamping itu Kota Probolinggo juga berdekatan dengan Kebun Percobaan Anggur Banjarsari, milik Badan Litbang Pertanian Departemen Pertanian, keberadaan kebun ini tentunya sangat menunjang pengembangan agribisnis anggur di Kota Probolinggo.

Saat ini telah tersedia varietas unggul baru yaitu “ PRABU BESTARI” yang dirilis melalui Keputusan Mentan RI No. 600/Kpts/SR.120/11/2007 tanggal 7 November 2007 sebagai varietas unggul. Varietas ini mempunyai mutu yang unggul, produksi stabil dengan hasil cukup tinggi. Pada tanaman umur produktif (5 tahun ke atas) mampu menghasilkan buah 20 – 30 kg/pohon/tahun.

Dalam rangka pengembangan anggur di Kota Probolinggo, telah diberikan bantuan bibit anggur pada tahun 2006 sebanyak 614 pohon. Pada tahun 2007 Kota Probolinggo juga mendapat bantuan dana PMUK untuk penumbuhan dan pemantapan anggur.

Walikota Probolinggo bertekad mengembalikan citra Kota Probolinggo sebagai kota anggur dengan dukungan dari instansi-instansi terkait lainnya. Hal ini dibuktikan dengan pembentukan Asosiasi Anggur Prabu Bestari yang diresmikan tanggal 13 Desember 2007 dan lounching panen anggur Prabu Bestari bersama Dirjen Hortikultura dan Walikota Probolinggo pada tanggal 15 Agustus 2008. Ditjen Hortikultura (Direktorat Budidaya Tanaman Buah) sebagai instansi teknis mendukung pengembangan anggur di Kota Probolinggo melalui pembinaan-pembinaan dan fasilitasi (seperti PMUK, dll). Dalam upaya itu juga, peluang pengembangan kawasan anggur untuk Kota Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso prospektif. Ditjen Hortikultura juga melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah pusat lainnya serta stake holder terkait.

Tujuan pengembangan anggur varietas unggul ini adalah untuk mengembangkan agribisnis anggur, meningkatkan produksi dan mutu, memotivasi petani dan petugas sebagai penggerak agribisnis anggur, memperluas pengembangan sentra produksi anggur serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Adapun sasarannya adalah berkembangnya komoditas anggur di Kota Probolinggo.

Beberapa permasalahan dalam pengembangan anggur di Kota Probolinggo :

  1. Penerapan inovasi teknologi rekomendasi oleh petani masih terbatas
  2. Keterbatasan modal petani
  3. Pengendalian hama dan penyakit yang kurang tepat sasaran.
  4. Seringnya angin kencang (angin gending) yang menyebabkan bunga dan buah anggur yang masih kecil berguguran
  5. Pengairan di musim kemarau, dimana debit airnya yang sangat kurang pada saat musim kemarau
  6. Anggur busuk menjelang panen pada saat musim hujan
  7. Anggur belum tersedia setiap bulan

Upaya mengatasi permasalahan dalam pengembangan anggur adalah :

  1. Pembinaan dan penyuluhan dari petugas baik di pusat maupun di daerah dalam hal penerapan GAP/SOP anggur yang baik dan benar disesuaikan dengan kondisi agroekologi setempat (spesifik lokasi).
  2. Perlu adanya SLPHT anggur untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas dan petani dalam mengendalikan serangan OPT pada tanaman anggur
  3. Pembuatan sumur pompa, untuk mengatasi kekurangan air.
  4. Dilakukan penjarangan buah secara optimal dan pengendalian OPT sejak dini.
  5. Pemangkasan buah dilakukan secara bergantian, sehingga ketersediaan anggur ada setiap bulan

Institusi terkait dalam rangka pengembangan anggur varietas unggul antara lain adalah : Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air (DEPTAN), Badan Litbang Pertanian (DEPTAN), Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, BPTP, BPTPH dan BPSBTPH Jawa Timur, Dinas Pertanian Kota Probolinggo, Kebun Percontohan Banjarsari Probolinggo, dan Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropika Tlekung.

Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 22 September 2008 )

BROKOLI DAPAT ATASI GANGGUAN PERNAPASAN

BROKOLI DAPAT ATASI GANGGUAN PERNAPASAN Cetak E-mail
Sumber : Kompas 14-September-2008
Jumat, 19 September 2008

Image Penderita gangguan pernapasan kronis atau yang disebut chronic obstructive pulmonary disease (COPD) boleh sedikit lega. Tim peneliti yang dipimpin Dr Shyam Biswal dari The Johns Hopkins School of Medicine, Baltimore, AS, menemukan brokoli bermanfaat bagi penderita COPD, jenis gangguan yang banyak menyerang kalangan perokok dan mantan perokok.

Biswal dan timnya mengungkapkan adanya hubungan antara kian parahnya COPD seseorang dan penurunan konsentrasi protein bernama NRF2 dalam paru-paru. NRF2 melindungi paru-paru dari luka yang diakibatkan peradangan. Kesimpulan tersebut diraih setelah mereka mengamati sample jaringan paru-paru para perokok dan mantan perokok, baik yang menderita COPD maupun yang tidak.

Jika dibandingkan dengan jaringan paru-paru orang sehat, jaringan paru-paru penderita COPD menunjukkan penurunan aktivitas dan konsentrasi NRF2 secara signifikan . Brokoli dipercaya mengandung senyawa yang membantu menstabilkan tingkat NRF2 dalam paru-paru.

Dalam uji coba dilaboratorium, tim biswal menemukan senyawa sulforaphane dalam brokoli mampu memulihkan ketidakseimbangan antioksidan dalam jaringan paru-paru penderita COPD. Hasil studi itu dimuat dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine edisi terbaru.

Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 22 September 2008 )

PROMOSI DAN SOSIALISASI MELALUI TULISAN

PROMOSI DAN SOSIALISASI MELALUI TULISAN Cetak E-mail
Sumber : Dr. Ir. Yul H. Bahar
Kamis, 09 Oktober 2008
ImageAkhir bulan puasa sebelum lebaran 1429 H ini, saya ditawari buku novel oleh seorang staf Ditjen Hortikultura berjudul “Mintari Penyuluh Terampil yang Cintanya Rumpil” karangan Ir. Achmad Sobari Prasodjo. Novel ini merupakan penyajian kembali tulisan beliau dalam bentuk buku yang pernah dimuat di Tabloid Sinar Tani dalam bentuk Cerita Bersambung dalam periode penerbitan yang cukup panjang.

Mengenai pengarangnya tentunya banyak aparat Departemen Pertanian sudah kenal, karena beliau pernah menjadi pejabat di Departemen Pertanian, antara lain; Sekretaris Ditjen Tanaman Pangan, Sekretaris Menteri Pertanian semasa Menteri kita adalah Dr. Ir. Muhammad Prakoso dan banyak jabatan struktural lainnya. Setelah purna bhakti, beliau masih sangat energik, dan saat ini beliau dipercaya sebagai Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Tabloid Sinar Tani.

Setelah mendapatkan buku tersebut, di sela-sela cuti dan liburan dalam merayakan hari Iedul Fitri 1429 H kemaren ini, saya berhasil menamatkan membaca novel tersebut secara tuntas. Dari judulnya sudah dapat ditangkap bahwa isinya akan bercerita masalah dan ragam pertanian. Selanjutnya saya punya kesan mendalam terhadap penyajian dan isi novel ini, antara lain;

1. Merupakan novel yang spesifik menceritakan sejarah, keadaan, berbagai ragam kegiatan dan komoditas, serta visi (harapan) pertanian ke depan yang dirangkai dalam bahasa dan gaya yang menarik, sehingga mampu membangkitkan gairah pembacanya untuk lebih mendalami masalah pembangunan pertanian dan pedesaan secara baik.

2. Mempunyai alur cerita berbagai tokoh dan karakter orang yang menarik, unik, antagonis, atraktif, optimis, dll, namun selalu terkait dengan masalah pertanian, disini Mintari dan Sukismo sebagai tokoh sentralnya. Meskipun belum sampai pada kesimpulan, sudah dapat diperkirakan bahwa cerita ini berakhir dengan happy ending dan kebanggaan akan pertanian.

3. Membuka wawasan pembaca akan keterkaitan berbagai aspek pembangunan pertanian (perbenihan, budidaya, penyuluhan, pengolahan, pemasaran, sarana infrastruktur dll) dan keterkaitannya dengan aspek lainnya (kesehatan masyarakat, industri, bisnis, keuangan dll)

4. Membandingkan keadaan pertanian, kemajuan teknologi, budaya, etos kerja dan masyarakat di negara kita dengan negara maju, khususnya jepang, serta perbandingan keadaan pertanian antar daerah sehingga dapat sebagai acuan dan gambaran seperti keadaan sebenarnya.

5. Menceritakan kondisi dan fungsi kelembagaan pemerintah dan swasta, organisasi masyarakat, organisasi pertanian, program dan kegiatan dalam pembangunan pertanian.

6. Mengemukakan percaturan, lika-liku dan persaingan antar tokoh (peran) dalam cerita, menggambarkan antara keluguan, keinginan, trik, profesionalisme, ambisi dan cinta hal ini juga terkait dengan pesan moral, norma-budaya dan keagamaan.

7. Menyajikan keadaan dan perkembangan pendidikan, keterampilan dan arti pentingnya pendidikan sebagai pengungkit dalam mencapai ambisi/visi, cita-cita dan kesuksesan (pada masyarakat desa, perkotaan bahkan negara maju).

Dengan kepiawaian Bapak Sobari mengemas berbagai cerita, lokasi, kejadian, karakter, situasi dan imajinasi, dalam suatu tulisan yang cantik dan menarik, akhirnya dengan tidak terasa kita akan hanyut dalam cerita dan memaknai apa itu sebenarnya pembangunan pertanian, yang akhirnya juga dapat membangkitkan dorongan dan dukungan pada pembangunan pertanian. Meskipun merupakan fiksi, namun karena novel ini ditulis oleh orang yang mengalami sendiri dan menjadi aktor dalam pembangunan pertanian, maka novel ini terasa enak dibaca. Ini merupakan salah satu cara dan media promosi dan advokasi pembangunan pertanian kepada berbagai khalayak.

Saya merasa salut dan bangga dengan hadirnya novel buah karya Bapak Sobari ini, novel ini saya pikir perlu dibaca oleh insan pertanian sebagai salah satu rujukan dan pembuka wawasan. Bila seandainya novel ini dapat ditayangkan dalam bentuk sinetron ataupun film layar lebar mungkin akan sangat menarik. Ini mungkin bisa dianalogikan dengan kisah novel Ayat-Ayat Cinta yang sebelumnya tidak begitu dikenal orang, namun setelah dikemas dan ditayangkan di media cinema ternyata menjadi menggelegar dan mencengangkan, bahkan presidenpun merasa perlu menontonya.

Pada waktu halal bil halal Departemen Pertanian kemarin (6 Oktober 2008), dalam suatu kesempatan saya sempat bertemu dengan Bapak Ir. Sobari, sipengarang novel tersebut. Saya katakan kepada beliau bahwa saya telah tamat membaca novel Mintari dan Sukismo karangan Bapak, saya sangat terkesan dan bangga pada tulisan itu, ini adalah salah satu bentuk karya besar yang telah mampu disajikan kepada semua insan yang terkait dengan pertanian. Selanjutnya perlu promosi, sosialisasi dan garapan artistik terhadap hasil karya besar ini sehingga memberikan manfaat dan dampak lebih besar.

Sewaktu saya masih kecil (kira-kira kelas 4 SD) di kecamatan Bonjol (Sumatera Barat) saya pernah membaca buku sejarah dan ilmu bumi yang disajikan dan dirangkai dalam bentuk novel, dengan judul Bujang Pasaman. Novel ini memberi kesan mendalam dan sangat saya senangi, karena menceritakan perjalanan Bujang Pasaman dari Air Bangis melalui darat ke kota Padang, dan kembali lagi ke Air Bangis melalui laut. Perjalanan ini melalui berbagai daerah yang dilengkapi dengan cerita keadaan dan potensi daerah yang dilalui (benda, monumen, sungai, sejarah, hutan, pertanian, dll), keadaan sosial dan budaya masyarakat kabupaten Pasaman, sehingga menarik sekali untuk dibaca dan menimbulkan kesan mendalam, yang akhirnya mampu memberikan perspektif tentang kabupaten Pasaman dan daerah yang dilalui Bujang Pasaman.

Sekitar tahun 1992 di Jepang saya juga pernah membaca sebuah novel (berbahasa inggris) mengenai pertanian padi di Jepang. Novel ini menggambarkan isi surat menyurat antara seorang petani Jepang dengan anaknya yang sedang sekolah menuntut ilmu di Amerika Serikat. Novel berisi tentang keadaan perkembangan petani dan padi di Jepang, bagaimana penghargaan masyarakat Jepang pada beras, perkembangan teknologi dan konsolidasi lahan, filosofi kenapa padi perlu diproteksi di Jepang, upaya menghadapi intervensi pasar internasional pada petani Jepang, perbandingannya petani Jepang dengan Amerika Serikat, perbandingan beda kepentingan antara globalisasi perdagangan yang diinginkan Amerika Serikat dan kroninya dengan upaya melindungi petani Jepang, dlsb. Ternyata masalah padi ini bila dikemas dalam suatu novel dengan gaya dan bahasa yang baik memberikan kesan yang sangat bagus, mampu membentuk opini masyarakat, yang akhirnya meningkatkan apresiasi masyarakat kepada pertanian dan mendukung pada kebijakan proteksi pertanian yang diambil oleh pemerintah.

Selanjutnya kita perlu mencari orang serta membangkitkan cerita dan novel-novel menarik tentang pembangunan pertanian (termasuk agribisnis dan industri hortikultura) untuk disajikan secara cantik, menarik, mengalir dan berbobot. Sebenarnya banyak hal-hal menarik yang dapat digali dalam meningkatkan apresiasi, citra dan cinta pada pembangunan pertanian, baik dalam bentuk novel, cerpen, cerbung, legenda, lelucon, anekdot dll. Ceritanya tentu juga berisi berbagai kemajuan dan kesuksesan, pembelajaran dari kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan, partisipasi masyarakat dan pelaku usaha, misi-misi pembangunan pertanian, harapan dan tantangan.

Mencari orang yang tertarik dan mau menggeluti ini memang sulit, namun bila didapatkan akan mampu memberikan citra positif terhadap pembangunan pertanian (hortikultura), siapa mau memulai......., hayoooo.....

Pemutakhiran Terakhir ( Kamis, 09 Oktober 2008 )

Menapak Merauke, Tanah Harapan dan Masa Depan Pertanian

Menapak Merauke, Tanah Harapan dan Masa Depan Pertanian Cetak E-mail
Sumber : DR. Ir. Yul H. Bahar
Senin, 17 November 2008

ImagePengantar dan Prolog

Sudah lama saya berkeinginan untuk dapat menapakkan kaki di tanah Merauke, kota paling timur Indonesia dan kabupaten sebelah selatan Provinsi Papua ini. Akhirnya keinginan dan impian itu tercapai jua dalam suatu perjalanan pada tanggal 3 Nopember 2008. Berkunjung ke Merauke pertama kali ini sungguh punya kesan tersendiri dan mendalam.
Perjalanan panjang dilakukan dengan Pesawat Merpati, memakan waktu sekitar 10 Jam dari Jakarta, akhirnya kami mendarat di Bandara Mopah Merauke sekitar jam 8.30 WITA, setelah transit di bandara Makassar, Biak dan Jayapura. Merauke boleh dikatakan kota terminal (tujuan akhir) dari jalur penerbangan pesawat besar ke daerah ini.
Kedatangan saya bersama tim dalam rangka menghadiri Pelatihan Refreshing Petugas Pengelola Data hortikultura, disamping monitoring dan supervisi pelaksanaan pengembangan hortikultura. Beruntung sekali kedatangan kami kesini disambut langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Marauke (Bapak Umar Ary Karim, S.Sos, MM, yang berasal dari Sidrap, Sulawesi Selatan). Beliau tentunya orang nomor satu dalam jajaran birokrasi pemerintahan daerah, yang kebetulan juga menjemput tamu lainnya dari Jakarta. Dengan beliau saya sempat berdisikusi mengenai keadaan dan perkembangan daerah ini.
Selama kunjungan disini kami berkesempatan juga diskusi dengan Asisten II bidang ekonomi, Kepala Aster II Lekol Handoko, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, serta petugas-petugas lapangan (mantri tani, PPL, dll). Disamping itu melakukan observasi ke lokasi pengembangan bawang merah dan mangga di kecamatan Tanah Miring dan kecamatan Semangga yang telah difasilitasi dengan dana APBN pembangunan hortikultura.
Kabupaten Merauke yang bermoto “Izakod Bekai Izakod Kai“ yang berarti Satu Hati Satu Tujuan, merupakan daerah yang punya potensi sumberdaya alam sangat besar, dengan masyarakat yang dinamis, aman tenteram, damai, tidak bergejolak, tidak ribut-ribut, sehingga masyarakat lebih fokus dalam melaksanakan kegiatanya, terutama bidang pertanian. Merauke adalah salah satu gerbang masuk ke Indonesia dari negara tetangga Australia maupun Papua New Guinea (PNG), karena itu pembangunan dan keberhasilan daerah ini sangat strategis dan sebagai show window kerberhasilan pembangunan nasional. Lebih jauh dari itu, Merauke telah merumuskan visinya yaitu “Agropolitan dan Lumbung Pangan Nasional
Sumberdaya dan Peluang Besar
Sering orang mengatakan bahwa pengembangan wilayah di Papua sulit karena medan dan alamnya berat penuh tantangan dan hambatan, belum lagi masalah keterbelakangan dan sosial budaya. Tetapi melihat kondisi sumberdaya alam, potensi wilayah, agroekosistem serta masyarakat disini tidaklah demikian adanya. Daerah Merauke umumnya merupakan dataran rendah yang sangat luas, sehingga potensial untuk pengembangan pertanian, hanya saja perlu gerakan, terobosan dan dukungan untuk pengembangannya.
Dari atas pesawat udara mendekati kota Merauke, sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah dataran yang luas, tidak ada gunung dan bukit, sebagian telah dikembangkan sebagai areal pertanian, namun masih banyak lagi yang terbengkalai belum dimanfaatkan. Lahan rawa disini sangat berbeda dengan daerah lain yang merupakan lahan gambut, disini merupakan lahan datar dan ber-rawa aluvial, sehingga cocok untuk mengembangkan berbagai jenis tanaman. Sumberdaya air justru melimpah dan jumlah curah hujan dan hari hujan sepanjang tahun juga banyak.
Permasalahan lebih banyak karena aspek sumberdaya manusia, karena kekurangan tenaga kerja ataupun penduduk untuk memanfaatkan potensi dan sumberdaya alam yang melimpah ini, disamping kemampuan dan adopsii teknologi budidaya pada masyarakat lokal yang masih rendah. Beruntung disini semenjak awal tahun 90-an telah banyak ditempatkan transmigran, mereka inilah yang menjadi andalan dan pelopor dalam mengolah dan memanfaatkan sumberdaya lahan tersebut untuk pembangunan pertanian, namun itupun dirasakan masih jauh dari cukup.
Saat ini Merauke punya lahan pertanian yang siap dikembangkan seluas 1,94 juta hektar dan lahan kering 0,55 juta hektar, hanya saja kondisi infrastruktur fisik wilayah yang kurang memadai, disamping kesulitan dalam akses pasar. Berbagai jenis tanaman pangan (terutama padi, jagung, kacang-kacangan dan biji-bijian) berkembang baik di daerah ini dengan produktivitas tinggi, sementara komoditas hortikultura yang pernah dibudidayakan juga sangat memuaskan, seperti kol, wortel, kacang panjang, cabe merah, bawang merah, ketimun dll. Dengan demikian tidaklah salah bila daerah ini telah dicanangkan oleh Presiden sebagai Lumbung Pangan dan Energi Nasional.
Pengembangan hortikultura
Pada tahun 2007 daerah ini telah mendapat alokasi dana untuk pengembangan komoditas hortikultura, terdiri dari bawang merah dan mangga, serta telah didukung dengan kegiatan pengembangan areal tanaman hortikultura. Pada tahun 2008 dari APBN masih mendapat bantuan untuk pengembangan komoditas bawang merah. Dengan dana APBD (Kabupaten maupun Provinsi, atau dana OTSUS) juga telah dilakukan pengembangan dan pembinaan komoditas hortikultura lainnya.
Disamping itu pada tahun 2007 dengan dana APBN terdapat kegiatan pengembangan penangkar benih bawang merah seluas 3 Ha yang ditangani oleh 5 orang petani maju berasal dari Brebes. Melalui DAK 2007 juga dilakukan kegiatan penangkaran benih bawang merah oleh 10 orang penangkar dengan areal seluas 3 Ha. Benih bawang merah yang dikembangkan adalah varietas; tiron, bangkok, illocos, bima, super philips. Serta benih biji tuktuk. Ternyata yang baik dan berhasil berkembang dan sesuai dengan kondisi daerah adalah bawang merah varietas Thailand (didatangkan dari Brebes), yang kemudian lebih banyak digunakan petani setempat.
Pengembangan bawang merah dari segi budidaya boleh dikatakan berhasil, teknologi budidaya telah dikuasai, karena umumnya petani bawang merah disini adalah para transmigran yang berasal dari Brebes, yang mana mereka sudah sangat mengerti dan berpengalaman dalam budidaya bawang merah. Begitu juga dalam penangkaran benihnya, meskipun hasil dan kualitasnya masih sedikit kalah bersaing dengan bawang merah Brebes. Disamping benih, sarana produksi dan pengolahan lahan, untuk meningkatkan kemampuan budidaya, dalam paket bantuan juga telah dilengkapi dengan kegiatan sosialisasi budidaya, SL-PHT dan SL-Budidaya.
Permasalahan yang dihadapi yaitu pemasaran, karena setelah berproduksi tidak dapat dijual disamping masuknya bawang merah dari daerah lain (terutama Brebes) dengan harga dan kualitas lebih baik. Disamping pasar lokal yang daya serapnya terbatas, sasaran pemasaran selama ini adalah ke Timika, namun bila bawang merah dari Brebes masuk maka bawang dari Merauke akan kalah bersaing. Sampai sekarang jumlah petani bawang merah ini masih banyak, meskipun dalam agribisnisnya mengalami jatuh bangun. Pengembangan bawang merah disini punya potensi sangat besar, karena petani sudah berpengalaman dan menguasai teknologi, lahan subur yang sangat luas. Bila ditangani secara serius dan ada jaminan pasar maka produktivitas dan kualitasnya tidak akan kalah dengan bawang brebes, mungkin bisa melebihi.
Pengembangan komoditas mangga arum manis dilakukan di kecamatan Semangga (kampung Urumb, Batara dan Manggap Naggo) yang merupakan daerah penduduk asli Merauke, yaitu suku Marind. Tampak disini tanaman mangga yang diberikan tidak terawat, hanya dibiarkan begitu saja (meskipun sebelumnya diberi pagar dan pupuk), yang tertinggal banyak pagarnya saja, tanaman banyak yang mati. Pemilihan lokasi dan komoditas pada daerah ini nampaknya kurang tepat karena suku marind tidak terbiasa dengan budidaya mangga. Disini sudah banyak terdapat pohon mangga yang besar dan tua merupakan tanaman warisan dari pendahulu mereka. Bila tanaman ini berbuah (seperti bulan-bulan sekarang ini sampai Januari) maka buahnya melimpah dan tidak dapat dijual, atau tidak biasa menjualnya, sementara untuk konsumsi sangat terbatas. Inilah yang menyebankan perhatian masyarakat pada tanaman mangga bantuan pemerintah ini kurang begitu baik.
Upaya dan Terobosan Pertanian
Sadar akan potensi dan kekuatan daerahnya, maka dalam pengembangan pertanian saat ini Pemerintah Daerah memberikan perhatian khusus dalam bentuk insentif, fasilitasi, bantuan dan berbagai kemudahan. Disini bagi kelompok tani yang mampu melakukan perluasan areal tanam pangan seluas 15 Ha maka akan diberi insentif sebuah buah handtractor, dan bagi kelompok tani yang berhasil mengembangkan lahan seluas 100 Ha diberi insentif sebuah minitraktor. Ini tentunya sebagai suatu komitmen dan rangsangan bagi masyarakat untuk berpacu mengembangkan pertaniannya.
Kebijakan lain, PEMDA melakukan pembukaan dan pengolahan lahan baru dengan menggunakan minitraktor yang dilayani secara gratis. Masyarakat tani melalui kelompok tani cukup mengajukan lahan yang akan dikembangkan, rencana penanaman dan rencana kegiatan kelompoknya. Selanjutnya pemerintah (Dinas Tanaman Pangan) akan melakukan pembukaan lahan (dengan traktor) sampai menjadi siap tanam, disamping itu juga diberikan bantuan benih secara gratis. Petani hanya bertugas dan bertanggung jawab menanam dan merawat tanamanannya. Fasilitasi ini direncanakan untuk tiga kali musim tanam, yang diperkirakan masyarakatnya sudah mampu mandiri, selanjutnya petani harus mampu mengelola sendiri.
Jajaran PEMDA, terutama Dinas Tanaman Pangan telah aktif dan intensif melakukan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat tani, serta mengkoordinasikan berbagai kegiatan pembangunan pertanian dari berbagai sumber pendanaan. Untuk itu telah ditetapkan kawasan dan sentra produksi berbagai jenis tanaman pada daerah yang cocok sesuai agroekosistem dan kultur masyarakatnya, setelah melakukaan inventarisasi dan penataan ulang peruntukan wilayah.
PEMDA juga telah mengundang dan mendapat komitmen dari beberapa perusahaan besar untuk membangun pertanian daerah ini, antara lain; perusahaan Bangun Tjipta, Comexindo International, Medco Group, Digul Agro Lestari, Uata Agrotama Group, Wolo Agro Makmur dll. PEMDA telah memberikan fasilitasi dan berbagai kemudahan bagi investor dan perusahaan swasta yang masuk dan membangun pertanian disini, sebagian diantara mereka sudah beraktifitas di lapangan.
Strategi dan Pendekatan
Pengembangan pertanian di Merauke punya prospek bagus dan punya harapan sangat besar, untuk itu memerlukan dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak, baik pemerintah, PEMDA maupun swasta. Melihat kondisi, fakta dan potensi pengembangan pertanian disini, maka beberapa strategi dan pendekatan yang perlu dilakukan, antara lain;
  1. Membangun dan menyempurnakan infrastruktur fisik wilayah untuk mendukung agribisnis, seperti jalan utama, jalan pertanian, irigasi, drainse, jembatan. Begitu luasnya daerah ini tentunya memerlukan infrastruktur jalan untuk mencapai sentra produksi, memudahkan akses membawa input dan produksi pertanian, serta memudahkan perekonomian wilayah.
  2. Pengembangan dan penerapan mekanisasi pertanian secara intensif, dan besar-besaran, mulai dari proses pengolahan lahan, penanaman, panen dan penanganan pasca panen. Penggunaan traktor menengah dan besar, transplanter, combine harvester, pompanisasi sudah selayaknya diaplikasikan. Dengan keterbatasan jumlah penduduk dan areal pertanian yang luas, maka mekanisasi merupakan keharusan, sehingga lahan dapat diusahakan secara maksimal untuk agribisnis.
  3. Peningkatan kapasitas petani dan penguatan kelembagaan agribisnis. Melalui pelatihan, penyuluhan dan demonstrasi teknik budidaya sehinga usahatani dapat dilakukan secara baik. Kelembagaan agribisnis dalam bentuk kelompok tani, koperasi, Gapoktan, penangkar benih, asosiasi merupakan media untuk memudahkan pembinaan maupun melakukan usaha bersama.
  4. Pemilihan komoditas yang tepat dengan penggunaan benih bermutu varietas unggul penting untuk menjamin produksi. Karena itu penyediaan dan promosi penggunaan benih bermutu perlu dilakukan, disamping membangun Balai Benih dan pembinaan penangkar.
  5. Pengolahan hasil dan pengembangan industri pengolahan skala kecil dan menengah dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah, meningkatkan daya simpan produk, diversifikasi produk, serta memudahkan pemasaran.
  6. Fasilitasi pemasaran, promosi hasil dan pengembangan kemitraan usaha untuk ekspansi pemasaran ke daerah lain, maupun jaminan pemasaran ke perusahaan tertentu. Mengingat akses pemasaran masih terbatas di daerah setempat, bahkan justru produk luar yang masuk ke daerah ini, maka pengembangan pemasaran perlu difasilitasi.
Pengembangan sumberdaya manusia adalah salah satu pengungkit (leverage) dalam pembangunan pertanian disini, karena itu pembangunan pendidikan Politeknik Agribisnis sudah dirancang dan perlu segera diwujudkan, tentunya sangat diharapkan bantuan dari Departemen Pertanian maupun Departemen Pendidikan Nasional.
Penutup
PEMDA Merauke telah merancang program alternatif untuk solusi krisis pangan dan energi bangsa dengan nama MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate), yang diupayakan untuk menggerakkan dan mengundang berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam pengembangan pangan dan energi berbasis pangan di Merauke. Ditetapkannya Merauke sebagai lumbung pangan dan energi nasional adalah suatu peluang besar, dan bila ini ditangani serius maka tidaklah mimpi bila suatu saat ketahanan pangan nasional kita tercukupi dari ujung timur Indonesia ini.
Memang perlu upaya dan kegiatan khusus untuk pengembangan sarana fisik wilayah pendukung pengembangan pangan tersebut, diperlukan pembuatan drainase, jalan usahatani dan tata air mikro sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara optimal. Diperlukan terobosan dan langkah besar untuk membangun pertanian daerah ini. Untuk itu PEMDA berupaya melobi Pemerintah (Pusat) untuk menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan dan energi nasional, tentunya berikut dengan program dan kegiatan yang spektakuler. Kalaulah program pengembangan Sawah Sejuta Hektar yang dulu dicanangkan Presiden Suharto dilaksanakan disini, maka tentulah akan berhasil dengan baik.
Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 17 November 2008 )